Kita dapat dengan mudah menemukan bisnis waralaba berbahan dasar kopi dan cincau ini di persimpangan jalan, sekolah, universitas, pelataran mini market, dan halaman rumah. Nani (38), salah satu pedagang minuman ini misalnya, mulai membuka gerai Cappuccino Cincau pada 2013 lalu. Ia tertarik dengan modal awal yang relatif murah, pembuatannya yang praktis, dan iming-iming keuntungan sebanyak 50 persen dari tiap gelas yang terjual.
Dengan mengeluarkan uang sekitar 5 jutaan, Nani telah mendapat perlengkapan usaha seperti: gerobak, mesin cup sealer, banner, blender, pelatihan, dan bahan baku masing-masing 1 kilo gram untuk menjalankan bisnisnya selama satu putaran. Ketika bahan yang dibutuhkan telah habis, ia diperkenankan untuk memperoleh bahan-bahan tersebut dari tempat lain.
Yang menarik, pemasok utama Cappuccino Cincau di Jabodetabek itu tidak begitu jelas, meski model bisnis minuman dingin ini disebut sebagai franchise. “Ternyata dalam bisnis ini, ada orang mengambil bahan dan kemudian menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi. Jadi sudah lewat beberapa tangan. Awalnya saya dapat untung 50% tiap gelasnya. Karena bahannya naik, ya keuntungannya pun berkurang. Jadi saat ini saya mencari agen lain yang lebih murah, kalau bisa sih dapat langsung dari tangan pertama,” imbuh ibu dari dua anak itu.

No comments:
Post a Comment